Bangkit Dari Bangkrut Karena Sedekah

Bisnis Rawi Wahyudiono perbah terpuruk lantaran melupakan sedekah. Kini setelah mengamalkan konsep sedekah, ia mampu bangkit dari kebangkrutan. Bisnis yang ia tekuni sekarang menuai sukses.

Berikut Kisahnya…

Rawi Wahyudiono punya keyakinan kuat dalam bisnisnya, yakni kebangkrutan sebuah usaha bisa terjadi lantaran melupakan sedekah.

Demikian pula sebaliknya, jika usaha ingin sukses, maka perbanyaklah sedekah.

Keyakinan itu dialaminya sendiri beberapa tahun silam, kala ia mengelolausaha komputer bersama dua temanya. Rawi panggilan akrab Rawi Wahyudiono mengatakan, bisnis bersama itu bengkrut karena salah mengelola.

Pria berkaca mata ini mengaku ssecara hitung-hitungan di atas kertas, seharusnya bisnisnya dapat berkembang. Sebab dia punya tiga toko yang memiliki omzet lumayan. oms\zetnya bisa mencapai Rp.100 juta per bulan. Bahkan ia sudah mampu mempekerjakan 10 orang karyawan.

HIKMAH SEDEKAH

“Lho kenapa bisa bangkrut?. Ternyata setelah dievaluasi, penyebab paling fatalnya karena tak memiliki sistem akuntan yang baik. Akibatnya arus eluar-masuk uang menjadi tidak jelas. Kondisi itu menyuurkan sikap saling curiga di antara pemilik usaha.

“Suasana kantor jadi panas karena saling curiga. Kondisi tersebut secara perlahan tapi pasti menggerogoti kinerja usaha kami. Sampai akhirnya kapal usahanya kandas, bangkrut, dan habis-habisan. Nggak punya apa-apa lagi, kecuali semangat untuk melanjutkan hidup.” Ujar Rawi.
Suami Tanti Risyanti ini mengaku, walaupun dia bangkrut namun ia bisa memetik banyak hikmah dan pelajaran berharga selama lima tahun mengelola usaha itu.

Di samping karena salah kelola, bagi Rawi, kebangkrutan usaha itu juga karena lupa sedekah. “Dalam lima tahun itu saya lupa sedekah, padahal saya punya anak yatim. Saya sibuk bekerja, mencari duit sehingga keluarga saya tinggal. Bayangkan sabtu-Minggu kerja terus. Makanya tidak heran kantor jadi panas karena saya lupa sedekah. Ini keyakinan saya”. Ujar lulusan D3 Komputer STIKUM.

Kebangkrutan usaha itu merupakan pukulan berat baginya, namun ia tidak mau larut dalam masalah. Meski secara materi ia terpuruk, secara mental ia terus berupaya segera bangkit. “Sebab pilihan saya tidak banyak. Makan atau tidak makan. Makanya harus segera bangkit”, ambah Rawi.

OMZET MENINGKAT

Dengan bermodalkan obeng, telepon, dan meja. Rawi berupaya membangun bisnis barunya pada tahun 2008 dalam bidang komputer dan printer.

Perlahan namun pasti usahanya melebar ke perbaikan mesin uang, server, hingga menjual pita printer, tinta, dan peralatan perbankan lainya.

“Saya bikin usaha ini dari nol. Jangankan pakai uang modal, ang untuk beli susu anak saja enggak punya. Ya.., alani saja. Langkah pertama mengontak pelanggan-pelanggan lama. Awalnya, say a fokus garap bank-bank di Jabodetabek”, Kata Rawi yang aktif dalam komunitas Tangan Di Atas (TDA) ntuk berbagai kepentingan sosial.

berkaca dari pengalaman masa lalu, ia terus melakukan perbaikan dalam pengelolaan bisnis. Hanya dalam waktu tidak lama, bisnis Rawi sudah pulih.

“Kini omzet usaha saya sudah mencapai Rp.200 Juta perbulan. Saya juga sudah berani buka cabang di daerah seperti Gombong, Solo, Denpasar, dan Mataram. Lompatan besar itu terjadi karena saya rajin bersedekah.”, Katanya.

Iklan

Tentang Rifai Prairie

Rifai Prairie bekerja sebagai office cleaning and maintenance dan juga gardener di salah satu sekolah menengah atas di kab Gresik. Hobi menulis, berkebun, menggambar dan membaca.
Pos ini dipublikasikan di SEDEKAH dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s