setelah vakum, terbitlah UNAS

Sekali lagi terbuktti bahwa teori kesialan gue emang nyata. Gimana nggak, setelah luaamaaa vakum ngeblog eh! Mendadak nulis di pagi hari menjelang UNAS. Biarpun gue bukan pesertanya hehehe

Gue ikut prihatin aja. Kenapa pendidikan kita nggak maju-maju? Kenapa UNAS 20 kode soal? Gimana kalo alat koreksinya muyeng gara-gara 20 kode? Nah loh!
Kebingungan kayak gini pasti dialami banyak orang.

Gue berandai andai kalo saja pendidikan di negeri ini seperti di Swiss atau Jepang!. Pasti gue bisa kuliah. Sempat saya baca sebuah tulisan di media masa perihal pendidikan di Swiss, ketika keluar SMA negara akan memilah berdasar prestasi di sekolah selama si pelajar menuntut ilmu. Kalo dirasa pandai maka akan dibantu untuk mekanjutkan ke jenjang kuliah, sedangkan yang nggak pandai akan diarahkan ke sekolah lanjutan teknik (kayak Sekolah kejuruan) untuk bekal bekerja.
Biaya kuiah di sana per semester hampir sama dengan UMR. Jadi nggak ada istilah orang miskin nggak bisa kuliah, asal pinter pasti bisa kuliah.

Bandingkan dengan di indonesia yang serba mahal. Dan tanpa kompetensi. Makanya negeri ini segera hancur kayaknya.

Mengingat berita korupsi di salah satu universitas, berita premanisme, berita pemalakan turis oleh oknum aparat.. Membuat GUE MALU (Banget) JADI ORANG INDONESIA

Iklan

Tentang Rifai Prairie

Rifai Prairie bekerja sebagai office cleaning and maintenance dan juga gardener di salah satu sekolah menengah atas di kab Gresik. Hobi menulis, berkebun, menggambar dan membaca.
Pos ini dipublikasikan di cuap-cuap, Harian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s