Resensi Buku “Musnahnya Sengkuni!!”

Cover Depan

Cover Depan

Oleh : Suwito Sarjono
Harga : Rp. 40000
Ukuran : 14x20cm
Tebal :
Terbit : Januari 2013
Penerbit : DIVA Press

Buku ini lahir setelah jagat politik Indonesia melahirkan sosok Seng.. Ah! maaf, yang bener sosok mas Nanas yg mengucapkan dia dijebak oleh politik sengkuni. Yah! Pokoke ngunu kuwi lah! (pokoknya gitu lah!)

Gue nggak mau bahas bang Nanas yang katanya mau bikin partai baru dengan gambar Monas dan slogan “Korupsi sepeser, gantung saya di Monas!.

Selain menyebalkan politik di Indonesia masih didominasi oleh corak mementingkn diri sendiri, huueekkk!!! (najis! Jijay!)

beralih ke buku. Sodara-sodara mungkin belum kenal sengkuni. Sama! Saya juga belum kenal. Kita kenalan Yuk!

“Mas! Mas Seng..!”

“…”

“waduh maaf sodar-sodara kayaknya mas sengkuni lagi ngambek!” :p

“Nama gue Trigantalpati tahu!”

“lha itu kan nama sebelum kamu ditonjok sama Gandamana gara-gara kamu suka fitnah Seng!”

“Huss jangan keras-keras…!”

jadi sodara-sodara sengkuni itu sebenarnya adalah kakak dari Gendari. Ia punya tiga saudara. Namanya Gendara, Gendari, sama satu lagi lupa gue. Nah si Gendara mati dibunuh Pandu Dewanata, trus si Gendari diperistri Pandu, sayangnya Pandu punya kakak cacat(buta) namanya Destrarata.

Karena kalo di aturan Jawa itu nggak baik nikah mendahului Kakak, maka Pandu menyuruh Destrarata memilih salah satu wanita yang akan dia kawin. Kebetulan waktu itu si Pandu memboyong tiga Putri. Kunti, Madrim, Dan Gendari.

Ternyata setelah meraba-raba. (hus! Jangan piktor dulu, yang diraba si Destrarata itu telapak tangan ketiga putri itu..). Akhirnya Si Destrarata memilih Gendari.

Pandu menikah dengan Kunti dan Madrim(poligami) melahirkan Pandawa lima.

Destrarata menikahi Gendari melahirkan seratus anak Kurawa. (sumpah gue nggak bisa bayangin gimana ada cewek bisa melahirkan 100 anak, emang tikus?! :p)

Nah Sengkuni adalah saudara Gendari. Kebetulan ia ingin sekali menjabat sebagai Patih. Sebab patih adalah jabatan nomer dua di sebuah kerajaan, kalo sekarang mungkin kayak wakil presiden. Hehehe

Nah kebetulan waktu itu yang jadi patih namanya Gendamana.

“Halo Bang Gendam!”

“Hee.. Kalo manggil itu yang lengkap dong! Nama saya Gandamana!”

“Oh iya Bang Gandamana!. Gimana kok bisa dipecat sama Raja Pandu?? Benarkah abang difitnah Sengkuni?”

“Iya. Jadi waktu itu ada yang bikin isu bahwa kerajaan Astina akan menyerang negara Pringgandani, padahal nggak!. Nah terpaksa saya maju menghadapi pasukan Pringgandani. Nah ternyata sengkuni licik. Dia menjebak saya dengan jebakan lubang di tanah. Pas saya terjebak saya dikubur hidup-hidup. Terus dia balik dan melaporkan bahwa saya berkhianata dan menyeberang ke kubu Pringgandani.”

“lha kok Abang masih hidup! Padahal udah dipendam hidup-hidup!” (Gak bisa dipercaya)

“Huahahaha saya kan sakti. Punya ajian Bandung Bandawasa!”

“wahhh itu nama daerah di negara saya lho Bang!”

“oh ya??”

“iya, kalo boleh saya minta diajarin boleh ya?”

(lha ini wawancaranya kok malah ngelantur!)(sadar dong! sadar!!!)

“lalu setelah abang dikubur?”

“dengan kesaktian saya. Saya bisa keluar ya udah saya tonjokin ittu mukanya sengkuni, saya benci mulutnya yang berbisa makanya sekarang mulut sengkuni mletot nggak karuan. Badanya saya hantamkan pohon, makannya jadi bungkuk!”

“ohh..” Yess!!! (seneng banget!!)

setelah jadi patih Sengkuni berusaha mengusir Pandawa keluar Astina dan berhasil, Hingga puncaknya dia berperang di padang Kurusetra dalam Perang Baratayudha.

Nah waktu di padang Kurusetra itulah Sengkuni menunjukan kesaktiannya. Bima yang terkenal kuat dan berani bahkan kalah oleh Sengkuni, Bima terpaksa Mundur.

Gimana nggak sakti lha wong ditebas pedang nggak mempan, dipalu pakai gadha nggak terasa, bahkan diserang dengan senjata tajam apapun nggak bisa!.

Hiii… ngeri Bo!

Untungnya ada Mbah Semar yang waktu itu lagi ngorok! Lhaaa apa hubungannya Semar ngorok sama Sengkuni yang sakti?? Sebab hanya Semar yang tahu letak kelemahan Sengkuni. Ooohh.. gitu!

Setelah bertanya kepada Semar, Bima segera balik dan mulai memukuli Sengkuni dan lalu…lu baca sendiri aja deh! Masa gue buka rahasia Sengkuni.

Di buku ini juga diselipi humor berupa parody yang menggambarkan situasi negeri Indonesia, juga petanyaan usi Kurawa pada Sengkuni. Misalnya Kenapa namanya ganti sengkuni? Kan bagusan Trigantalpati, atau Kenapa Sengkuni itu Licik?!

Sengkuni Baca buku Sengkuni

Sengkuni Baca buku Sengkuni

Iklan

Tentang Rifai Prairie

Rifai Prairie bekerja sebagai office cleaning and maintenance dan juga gardener di salah satu sekolah menengah atas di kab Gresik. Hobi menulis, berkebun, menggambar dan membaca.
Pos ini dipublikasikan di Harian, INFO, Resensi Buku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Resensi Buku “Musnahnya Sengkuni!!”

  1. niccaniez berkata:

    Lha kalo Pa’i dotonjok sama Gandamana,si Pa’i berubah nama jadi apa ya? wkwkwkwkwkwk

  2. Suwito Sarjono berkata:

    Terima kasih atas resensinya, Mas Pa’i. Kenalkan, saya Suwito (dlm KTP), lengkapnya Suwito Sarjono (fb). Ijin share, resensi ini, Mas Pa’i. Oh ya, salam kenal juga utk semua….
    http://suwitosarjonoo.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s