Cerita Misteri: Macan-Macan Merapi

Kisah Misteri: Macan-Macan Merapi

kisah ini pernah dimuat di majalah berbahasa jawa di kotaku, jadi intinya gue berusaha menceritakan kembali meskipun bahasanya tak sama persis.

“Aauuuuuu…!!” suara auman serigalahttps://rumahrifai.wordpress.com/

“Jduaarr!!” petir menyambar-nyambar.https://rumahrifai.wordpress.com/

……………………………

Macan-Macan Merapi

Macan-Macan Merapi

Letusan Gunung Merapi di tahun 2010 silam ternyata tak hanya membuat panik warga desa di sekitar lereng merapi, tetapi juga binatang di sekitar Gunung Merapi. Semuanya mengungsi mencari tempat perlindungan.

Letusan gunung berapi mengeluarkan material vulkanik berupa debu putih. Debu itu menyelimuti semua permukaan di desa dan daerah di sekitarnya. Genteng, halaman rumah dan semua pohon diselimuti debu.

Meskipun masih dalam status AWAS!, banyak warga yang memilih kembali ke rumahnya di lereng Gunung Merapi, selain bersih-bersih mereka juga memberi makan ternaknya yang sudah beberapa hari ditinggal mengungsi.

Termasuk Pak Raji yang tinggal di Desa Dompol yang berjarak sekitar 10 Km dari puncak gunung.

Baru beberapa hari pulang Pak Raji merasa gusar. Sebab banyak ternak penduduk yang hilang. Mulai dari ayam, bebek, anjing, hingga kambing. Menurut berita semua hewan itu dimangsa oleh macan. Berdasar jejak yang ditemukan warga, diduga macan itu berjumlah 4, dua induk dan dua lagi masih kecil.

Warga pun jadi resah saat hendak keluar menjelang malam, takut ikut menjadi korban keganasan macan-macan itu.

Suatu hari tetangga pak Raji bercerita bahwa semalaman dia tak bisa tidur sebab kambingnya mengembik ketakutan sebab ada harimau di sekitar kandangnya. Suara harimau pun terdengar keras mengaum. Macan-macan itu tak bisa masuk kandang sebab pintunya tertutup rapat.

Di lain hari tetangga Pak Raji yang lain bercerita perihal macan yang mencoba memangsa anjingnya. Si anjing menggonggong keras.

“GUK!GGUK!! GUUKK!!”

Harimau yang berusaha menangkap si anjing gagal menangkap sebab si anjing lebih tangkas. Si anjing lari tunggang langgang. Sementara harimau yang terlanjur melompat menabrak pintu rumah si empunya anjing. Suara benturan terdengar keras.

Keadaan itu lalu dilaporkan ke Posko Peduli Merapi yang ada di desa itu. Para relawan, tentara dan polisi yang mendengar hal itu segera ditunjukan jejak Macan-macan yang baru saja memangsa ternak salah seorang penduduk. Ketika jejak harimau itu diselidiki ternyata menuju ke Jurang Rungkut di sebelah timur desa. bisa dipastikan sarangnya ada di sana. Mungkin saja sarangnya ada di gua dibalik air terjun. Namun meskipun sudah membuat keresahan dan kegemparan bagi warga, aparat dan relawan tak bisa berbuat lebih. Mengingat macan bukanlah hewan yang harus dibunuh melainkan harus dilestarikan sebab tergolong hewan langka.

Frustasi menghadapi amukan macan, warga lalu mencari aneka cara guna menangkap macan-mavan itu itu tanpa membunuhnya.

Pak Raji pun teringat masih punya  saudara yang menyimpan ilmu peninggalan leluhurnya.sayangnya saudaranya itu sudah transmigrasi ke Lampung. Tapi Pak Raji tidak kehabisan akal. ia lalu emnghubungi saudaranya itu, meminta bantuan supaya mengusir macan-macan itu.

Memang dasar ingin pulang mengunjungi tanah kelahiranya, eh! Malah ditelepon Pak Raji. Maka berangkatlah saudaranya Pak Raji ini dengan segera.

Warga desa yang hampir putus asa pun akhirnya seolah mendapat harapan baru dengan datangnya saudara Pak Raji.

“Bagaimana Dik? Kamu kan masih menyimpan Mantra peninggalan simbah dulu?. Aku minta tolong usirlah macan-macan itu supaya jangan mengganggu warga di desa ini.”

“Mas Raji dan orang-orang desa tak perlu takut. Macan-macan itu itu tidak masalah. Mereka tidak akan mau memakan manusia di desa ini. Sejatinya macan-macan itu adalah anak turun dari macan tutul peliharaan simbah dahulu kala. Jadi nggak akan mau mengganggu Mas Raji sekeluarga. Dan lagi harimau yang memangsa manusia secara sengaja akan disingkirkan dari pergaulan dunia macan, macan tidak akan memangsa manusia kecuali sangat terdesak!”

Pak Raji lalu terkenang saat masa kecilnya dulu. Simbahnya memang menjadi bekel di desa itu. Selain itu juga menjadi pawang macan.

Sebagai penjaga ketentraman warga simbahnya sering mengajak jalan-jalan harimau peliharaanya keliling desa, guna menakut-nakuti maling, rampok, dan pencuri yang dulu masih sering beraksi di desanya.

“Pokoknya aku minta tolong usir macan-macan itu supaya kembali ke puncak Merapi.”

“Ya sudah kalo memang itu keinginan Mas Raji dan penduduk di sini.saya akan coba kontak batin dengan harimau-harimau itu.

Saudara Pak Raji diam di depan rumah, tanganya bersedekap, menghadap ke timur menuju Jurang yang diduga menjadi tempat persembunyian macan-macan itu.

Bibirnya komat-kamit membaca mantra peninggalan Simbahnya.

Matanya terpejam, seolah menuju alam lain.

Setelah lama bermeditasi dan merapal mantra. Ia membuka mata, bangkit lalu berjalan ke dalam menemui Pak Raji.

“Mas Raji, maaf! Untuk saat ini aku belum bisa mengusir macan-macan itu. Bukan aku tak mampu, tapi rasa kemanusiaanku yang mengatakan bahwa tak sepatutnya aku mengusir macan-macan itu sekarang!”

“lha gimana sih? Kamu jauh-jauh aku panggil ke sini supaya bisa mengusir macan-macan itu kok sekarang nggak bisa! Padahal kamu satu-satunya harapan kami. Kalau aku yang diwarisi ilmunya pasti aku usir sendiri nggak perlu bantuanmu!”

“Sudahlah Mas Raji.. Mas nggak usah khawatir macan-macan itu sudah aku peringatkan. Mereka tidak akan memangsa selain hewan yang sudah ditakdirkan Tuhan jadi mangsanya. Itupun aku suruh secukupnya saja. Dan mereka sudah janji nggak akan mengganggu warga di sini.”

“lha terus kenapaa nggak diusir saja macan-macan itu??”

“sebab puncak merapi belum reda. Mereka masih mau mengungsi dulu di sini. Kalo toh sudah aman, mereka akan kembali dengan sendirinya. Bersabarlah sedikit, sebab sebentar lagi kondisi Merapi pasti akan stabil.”

setelah beberapa saat berada di Rumah Pak Raji, Saudara Pak Raji pamit kembali ke Lampung. Meski macan-macan itu tidak pergi, namun keganasan macan-macan mulai mereda. Bahkan malah penduduk desa merasa kasihan dengan mcan-macan itu. Sebab itu warga sering melepaskan ternak peliharaanya secara suka rela supaya dimakan si macan-macan itu. Warga kasihan apabila macan-macan itu mati gara-gara tidak mendapatkan makanan.

*****

malam itu pak Raji tidur nyenyak. Dalam tidurnya Pak Raji bermimpi. Mimpi yang sangat jelas dan nyata. Tidak seperti mimpi umumnya yang buram dan tidak jelas urutannya, kali ini pak Raji bermimpi sangat Jelas dan runtut, seperti  kennyataan.

Dalam mimpinya Pak Raji kedatangan tamu berjumlah empat. Dua orang dewasa dan dua lagi masih anak-anak.

Tamunya berwujud harimau

anehnya pak raji seperti menyambut orang yang sudah dikenalnya. Dipersilahkan macan-macan itu masuk ke ruang tamu, lalu duduk di sana. Lalu Pak Raji bercakap-cakap. Saling bertukar kabar, juga menceritakan masa lalu ketika simbah masih hidup.

Setelah saling memberi kabar, barulah macan-macan itu mengutarakan maksud kedatangan mereka bertamu.

“sudah! Sementara ini aku menumpang hidup di desamu ini. Aku minta maaf kalo sudah membuat warga desa ketakutan.sejatinya aku tiada niat menakut-nakuti warga desa ini. Aku hanya ingin menumpang tempat dan mencari makan di sini sementara waktu. kalaupun keadaanya sudah membaik aku bakal kembali ke tempatku sendiri. Sepertti janjiku pada adikmu, sebab keadaanya sekarang sudah aman, aku minta izin pamit mau pulang” Kata macan tutul yang paling besar.

“sebelumnya aku dan warga di desa ini memang takut dan berusaha mengusir kamu semua. Malah pernah minta bantuan orang supaya menangkap kamu. Namun setelah diberitahu adiku tentang keadaan dan bahaya yang mengancamu, aku dan orang-orang desa di sisni ikhlas melepas sebagian hewan ternak untuk kau ambil guna memberi makan anak-istrimu.” Tutur Pak Raji.

“aku mnengambil hewan peliharaan warga juga secukupnya saja. Tidak berlebihan, yaa mau bagaimana lagi?! Aku punya anak istri yang harus kuberi nafkah. padahal tempatku berburu sedang dalam bahaya, maka dari itu aku minta maaf terpaksa memburu peliharaan warga yang tidak dikandangkan!”

“Iya. sudahlah! Tidak apa-apa, orang di desa ini sudah bisa menerima. Berkenaan dengan inginnya kamu kembali pulang aku ccuma bisa mendoakan keselamatanmu. Namun pintaku cuma satu, tetaplah kamu dan anak turunanmu menjaga hubungnan baik dengan keluarga dan keturunanku. Jangan ada yang saling mengganggu, seperti wejangan simbah!” Pinta pak Raji pada macan itu

“Iya. Aku camkan permintaanmu. Namun aku minta padamu supaya kamu dan warga desa jangan pernah memburu aku dan sebangsaku supaya semua bisa hidup lestari. Macan Tutul itu ganti meminta.

Macan-macan tutul itu lalu berpamitan. keluar dari rumah Pak Raji berjalan ke utara menaiki lereng gunung Merapi.

Pak Raji lalu terbangun, hari sudah pagi.

Haro itu Pak Raji menonton TV dan ternyata pemerintah sudah menurunkan status gunung Merapi dari Awas turun menjadi siaga.

,……………..

Daftar kata asing:

Macan   : Harimau

Simbah : Kakek

Bekel    : penjaga keamanan di desa. Kalau jaman sekarang semacam polisi desa.

Wejangan: nasehat atau pitutur

……..

“Auuuuuu…!”https://rumahrifai.wordpress.com/

PLAKKK!! Ceritanya udah selesai dodol. Jangan ngaum lagi. :-phttps://rumahrifai.wordpress.com/

nah! Gimana temen-temen? Seru kan??!https://rumahrifai.wordpress.com/

Oke sekian dulu cerita misteri kali ini. Masih banyak stok cerita misteri yang akan menyusul di edisi depan. Hehehe

Iklan

Tentang Rifai Prairie

Rifai Prairie bekerja sebagai office cleaning and maintenance dan juga gardener di salah satu sekolah menengah atas di kab Gresik. Hobi menulis, berkebun, menggambar dan membaca.
Pos ini dipublikasikan di Harian dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Cerita Misteri: Macan-Macan Merapi

  1. saya pikir macan disana udah gak ada lagi…

  2. mastur songenep berkata:

    macannya masih hidup hingga skrang?

  3. niccaniez berkata:

    Sudahlah,makan daging Pa’i ja,kami warga desa ikhlas kok demi membela kbenaran dan keadilan..!!!akulah pahlwan brtopeng..hahahaha #nangkring diatas genteng.

  4. jatijowo berkata:

    Cerita dibalik gunung berapi, sekalipun benar adanya. Mungkin siluman harimau,, hahahaa

  5. katamu kita tukar link. aku udah pasang linkmu, kok kamu belum?

  6. Ika Koentjoro berkata:

    Aku kira suara macan siluman eh ternyata macam beneran ya. Hmmm, tapi bagiku baik siluman maupun macan asli 2 2 nya menyeramkan

  7. Andreas Juliant berkata:

    mau ga kamu makan aku di ranjang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s