Oase Kehidupan di Atas Sajadah

oase

Namanya Randi seorang manager di sebuah perusahaan besar.

Hidup cukup, bergelimang harta, jabatan ada, itri cantik. Mobil mewah mentereng, rumah ngejreng.

Tapi dibalik semua itu masih ada 1 hal yang belum ia dapatkan.

Kesibukannya sebagai manager membuat ia tak mampu memikirkan hal itu.

………….

Hari ini tiba-tiba ia datang ke tempat kerjaku. Aneh juga rasanya dikunjungi orang besar, aku pun mengajak ia ngopi di sebuah warung kopi langgananku di dekat tempat kerja.

“Kamu ini kok aneh Ren? Sampeyan kan sudah makmur!” Kataku membantah pernyataanya yang merasa hidupnya belum lengkap.

Ia diam, dalam bantinya pasti sedang menimbang ucapanku.

Kalau dibandingkan dengan keluargaku pastilah sangat kontras. Aku memang punya rumah, itupun tak seberapa besar, keramiknya sudah usang, ada beberapa genting yang bocor. Dan kalau kuceritakan keluhanku soal rumah itu kau pasti akan bosan, saking banyaknya!

Istriku? Hmm.. Kalo untuk ukuran di mataku sih sudah cantik, tapi banyak yang bilang istriku standar. Dan kendaraanku cuma sepeda motor butut.

Rendi meneguk kopi di mejannya.

Lalu terpejam.

“Udah lama Rif aku nggak ngerasain kopi kayak gini?”

“hahahaha pasti kalo dikantor adanya cuma yang kualitas nomer satu ya? Branded!. Kalo di sini KW semua, hahaha” aku coba menggodanya. kulihat tadi si empunya warung juga sedikit tersenyum geli, ia sudah mafhum pada omonganku yang suka ngawur.

“Bukan! Maksudnya aku memang nggak pernah pergi ke warung, beda banget saat SMA. Semuanya seolah bebas! Sekarang yang aku temuin cuma kertas-kertas-dan kertas! Tanda tangan tiap hari!. Bosan aku..!!”

“Sama! Gue juga jarang ke sini, cuma karena dekat sekolah jadinya sering ke sini”

………….

Rendi masih menatap ke area kota, pemandangan kota yang sibuk terlihat jelas dari balik kaca jendela ruang kerjanya di lantai 10.

Kenapa Arif bisa bahagia sementara aku… Aku kaya! Tapi kenapa rasanya susah sekali menemukan ketentraman.

…………..

Saat rendi sampai di depan rumahku dia terdiam, aku cuma tersenyum.

“Udah biarin aja mobil kamu di jalan,kan masih ada space buat sepeda motor. Nggak ada orang sini yang punya mobil.”

Rendi mengangguk tersenyum..

“Assalamualaikum..!”

“Ayaahh… Ayahh pulang..!!.” Suara Aisyah, anakku mengagetkan kami berdua yang belum sampai di ambang pintu.

seperti biasa aku meregangkan kedua tanganku lalu memeluknya dan memberi kecupan kecil di keningnya.

“Yah! Nanti ke Masjid beli bakso dulu ya! Tadi Ais dikasih uang sama tante Yuli.”

“Ais.. Kalo beli baksonya itu abis pulang aja ya! Nanti kalo ketinggalan sholatnya gimana!”

Aisyah mengangguk.

Rendi terdiam, terlihat ia sedang berfikir dalam.

“Lho Yah! Ada tamu nggak diajak masuk sih!”

“Ah iya Bu! Ini Rendi teman SMA papa. Ayo Ren!” Aku mempersilahkan Rendi masuk.

Sore itu Rendi dan keluargaku berbicara banyak hal. Saat shalat tiba kami bersama-sama pergi ke masjid.

 

“Jadi sebenarnya apa rahasianya sampai kamu bisa bahagia sekali??? Padahal rumah kamu…”

“hahaha Rumah kan fisik Ren!. Sedangkan hati kan bukan barang fisik. Ia adalah kalbu! Rasa!. Mungkin karena kami selalu bersyukur dan menerima apa adanya!.”

“Kalau hanya itu kurasa aku juga sudah terima apa adanya!”

aku mengangguk, “Siapa juga yang nggak mau rumah mewah, jabatan tinggi dan harta berlimpah?!. Yang jelas Ren.. Kalo hanya menerima semua bisa, tapi kalo berterima kasih alias bersyukur atas pemberian itu nggak semua bisa!”

“Lalu bagaimana dong??”

…………..

Sebualan kemudian aku mendapat SMS dari Rendi. Ia menyuruhku datang ke tempat kerjannya jam 8 pagi. Meskipun aku juga harus kerja kuputuskan untuk memenuhi undangannya. aku hanya berfikir bahwa Rendi itu orang sibuk, mungkin aja jadwalnya sebulan ini sudah padat dan cuma hari itu dia bisa ketemu aku.

Aku pun memutuskan izin buat nggak masuk kerja.

Aku datang 15 menit ,hadsebelum jam menunjuk pukul 8 pagi.

“Permisi Mbak saya mau ketemu Pak Rendi!” Kataku saat berhadapan dengan Resepsionis.

“eh?! Ma.maaf bapak darimana ya? Ada keperluan apa?” terlihat ekspresi kurang menyenangkan dari wajahnya. Aku baru sdara aku ke sana cuma pakai kau kemeja biasa dan celana jins plus sendal butut.

Aku merogoh kantong mengeluarkan dompet. Kuambil KTP.

“Saya Arif Surrahman, temannya pak Rendi. Tadi beliau SMS saya. Tolong dicek!”

petugas perempuan itu segera tanggap, lalu memeriksa berkas-berkas di mejannya.

Lalu melihat ke KTP-ku.

“oh iya. Silahkan masuk pak!. Pak Rendi ada di ruang lantai sepuluh!”

aku mengangguk’ “wow! Tinggi banget!”

aku bergegas menuju lift. Sebenarnya ini pengalaman pertamaku bersentuhan dengan barang kotak penarik naik-turun ini.

Aku menunggu beberapa orang yang akan naik, berharap ada yang akan naik ke lantai 8, atau 9. Saat pintu terbuka aku akan keluar bersama mereka. Lalu setelah itu aku akan naik tangga menuju lantai sepuluh.

Tak ada satupun orang yang akan naik lift. Aku bingung. Saat hendak beranjak tiba-tiba pintu lift terbuka, dan…

“Assalamualaikum..!” Rendi keluar dari dalam lift dengan setelan jas hitam, ia tampak sangat ceria dan gagah.

“hah! Hampir aku mau tanya cara pakai lift itu gimana!!”

Rendi berjalan menghampiriku.

“Udah… Kita sholat dulu aja!”

kami berjalan beriringan menuju samping kantor yang ada sebuah mushola kecil di sana!.

Tampak si Resepsionis menunjukan ekspresi terkejut dan heran bos-nya bergandengan dengan seorang yang berbaju lusuh dan kumuh.

………….

Akhirnya Rendi bercerita bahwa ia menemukan oase kebahagiaan di atas sajadahnya.

sejak bertemu denganku, hidupnya yang kosong perlahan berubah. Ia makin rajin sholat, rajin sedekah dan menyediakan waktu khusus untuk beribadah, entah itu ia masukan agenda harian, bulanan, bahkan tahunan.

Kini rendi menyadari kebahagian hanya bisa diberikan Tuhan. Dan kalau ingin mendapatkannya kita harus menjadi pribadi yang berusaha, menerima, dan bersyukur!.

————–

“Saya mengamati, orang yang memiliki keyakinan yang mendalam, sering kali terlihat lebih humble dan lebih produktif. Mereka mempunyai tujuan yang kuat dan tak terhancurkan. Entah mereka itu Yahudi, Kristen, Budha, Islam, atau apa pun. Agama memberi mereka semacam arahdan pengabdian, yang mungkin bertentangan dengan analisa-analisa bisnis. Memiliki keyakinan seperti itu, berarti kita percaya pada kekuatan yang lebih besar dari diri kita.” (Donald Trump)

 

By: Rifai Prairie (Gresik 16 Juni 2013)

Iklan

Tentang Rifai Prairie

Rifai Prairie bekerja sebagai office cleaning and maintenance dan juga gardener di salah satu sekolah menengah atas di kab Gresik. Hobi menulis, berkebun, menggambar dan membaca.
Pos ini dipublikasikan di cerpen dan tag , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Oase Kehidupan di Atas Sajadah

  1. pursuingmydreams berkata:

    Apapun keadaannya harus selalu bersyukur ;). Ya tambah bersyukur klo bisa jadi orang kaya :D.

  2. arip berkata:

    Emang bener ya klo materi bukan sumber kebahagian. Kepenatan hidup akan sirna kalau intim berhubungan dengan-Nya. πŸ˜€

  3. jayputra9 berkata:

    Untuk fotonya luar biasa amazing.

    Cerita nya sungguh sangat mengharu kan dan sungguh penuh denngan hikmah. Saya tiba tiba sadar kekayaan bukanlah tujuan utama di dunia ini. Tetapi kebahagianlah yang seharusnya di jadikan tujuan utama. Dan untuk mendapatkannya dengan mendekatkan diri dengan sang pencipta.

  4. cerita yang menyentuh. aku juga pingin begitu. aku udah coba taqarub, belajar menerima tapi akibatnya semangat juang dan usaha melemah karena bergantung kepada rahmat-Nya dan percaya rizki di tangan-Nya. ini gimana ya?
    aku tahu harus ikhtiar, tapi semnagat juang masih lemah karena taqarub aja. ada saran gak?

  5. Ika Oetomo berkata:

    Bahagia kalau semua bisa di syukuri, dan ke syukuran itu tumbuh karena kedekatan kita padas yang kholik πŸ™‚

  6. luxi89soulmate berkata:

    ceritanya bikin terharu rif…uang bisa mendatangkan kebahagiaan tp uang bukanlah segalanya πŸ˜€

  7. duniaely berkata:

    keren juga ya qoutenya dr Donald Trump

  8. BiLova berkata:

    ceritanya cukup menambah oase hati juga πŸ™‚ bersyukur…bersyukur…dan bersyukur…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s