Back to Basic, Back to Purba :3

menulis

Teman-teman tentu udah sering baca tulisan Om Rhenald Kasali di berbagai media. Saya termasuk yang memfavoritkan tulisan beliau. Tulisan beliau inspiratif, memotivasi, dan dipenuhi aneka info baru yang belum gue tahu.

Namun ternyata semua bahan tulisan beliau disusun dengan cara manual, alias ditulis tangan. Tentu saja gue tahu itu dari sebuah kolom tulisan beliau di media masa.

Dan nampaknya gue juga termasuk salah satu individu yang musti nulis dengan cara “purba” itu.
Sebagai seorang dosen, tentunya Om Rhenald Kasali bisa aja nulis pakai Ipad, Iphone, Tablet dan banyak lagi gadget. Tapi.. Ya itu! Ada sensasi sendiri saat menulis dengan manual(tulisan tangan). Sebab kan bisa dikasih coret-coretan dan gambar sesuka hati. Beda dengan Perangkat Office yang gambarnya (kalo gambar kita sendiri) musti diupload dulu ke gadget, baru dipasang.

Sebenarnya dulu tahun 2010, gue pernah bikin diari yang super tebel. Tahu tuh! Isinya apa aja. Aneka berita favorit, gue tulis di sana. Curhat colongan gue juga ada di sana.

setelah kemarin kontemplasi gue niat back to basic, buat nulis aneka entri lewat tulisan manual. Tentu lebih repot karena harus kerja ekstra 2 kali. Tapi yang penting hasil maksimal dan memuaskan. Hehee
apalagi sekarang kondisi pekerjaan gue yang membutuhkan ekstra tenaga.
Belum lagi berbagai pekerjaan lainya yang musti dikerjakan.
Tapi tetep gue akan berusaha.

Ngomongin soal Tulisan tangan, gue sempat mikir “Apa nanti buku bakal punah dan berganti ke era digitalism???”
kalo memang itu terjadi, “Apakah buku digital bisa bertahan lama???”

Buku Cristmast Carol ciptaan Charles Dickens Kemarin berhasil dilelang dengan harga yang luar biasa, Rp.3,4 milyar!. Kenapa bisa semahal itu? Ternyata usia buku itu udah 200 tahun coy! Bayangkan! gue_kagum
Nah. Ini menjadi bukti bahwa eksistensi buku hard print mampu bertahan lama. Dan entah bagaimana dengan nasib buku kalo digital!

Memakai metode manual juga memberi manfaat lain buat gue pribadi. Sebab biasanya gue suka ngumpulin tulisan gue, gue pendam dulu bentar (maksudnya dibuat draf gitu!) setelah beberapa waktu kita baca ulang dan kita edit. Terbukti hal itu efektif menambah kualitas tulisan saya. Berbeda halnya dengan mengetik di komputer atau gadged yang cenderung… Malas buat dikoreksi. Mungkin karena efek radasi layar gadgednya pas baca.gue-hehehehehee

Tapi buat teman-teman, menulis itu dari hati. Mau manual, mau pake gadget sah-sah saja. Yang nggak sah kalo nggak nulis, hehee

akhirnya gue ucapkan selamat menulis buat semuanya! 😀 gue_tepoktangan“Ayo! ayo! semangat nulisnyaa!”

Iklan

Tentang Rifai Prairie

Rifai Prairie bekerja sebagai office cleaning and maintenance dan juga gardener di salah satu sekolah menengah atas di kab Gresik. Hobi menulis, berkebun, menggambar dan membaca.
Pos ini dipublikasikan di INFO, opini, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Back to Basic, Back to Purba :3

  1. luxi89soulmate berkata:

    Hmmmmm…aku dulu juga sering nulis diary…tp skrg sjk ad laptop jd mls..hehe..tp nulis pake tangan itu feel ny lbih kerasa lhoo..emang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s