Arsip Kategori: PuisI

PUISI PENYAMBUTAN MUSIM HUJAN.. :)

Beberapa puisi di bawah ini gue persembahkan buat musim hujan tahun ini. Moga-moga kamu bisa lama ngasih airnya, dan nggak banjir-banjir lagi. Check this out!! KENANGAN TERHAPUS HUJAN setelah hujan semalam laron-laron ditebarkan juga aroma rerumputan menyelip diantara embun pagi … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di PuisI | 12 Komentar

Semangat Cinta

Kulihat pipimu bersemu merah jambu. merana membakar angkasa Itu dulu sebelum aku berjalan di gerbang kematian meratapi tembok ajal. berjalan dalam kegelapan duri, api, dan sunyi-sepi dan segenggam kenangan. Hingga kini kau tahu apa yang buatku bertahan. dalam tiap detik … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di PuisI | Tag , , | Meninggalkan komentar

Simpang Jalan

Adalah kehidupan Nama jalan di mana kaki kulangkahkan. Sering ku jatuh. Sering ku terjerembab Sering ku tersesat. Di simpang jalan ada penentuan. Dan tiap ruasnya penuh percabangan Tiap cabangnya ada tujuan. Laksana pohon nan subur berbuah lebat. Kau dalam simpang … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di PuisI | Meninggalkan komentar

Bidadari di puncak menara

Bidadari di Puncak Menara Aku hidup di sebuah kota Kota yang kelam,suram,namun penuh menara Berjuta menara kokoh di sana kulihat hanya satu Seorang bidadari di puncaknya Memancarkan cahaya ke penjuru kota Mataku silau,tapi bisa kulihat wajahnya wajah yang begitu cantiknya. … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di PuisI | Meninggalkan komentar

Sajak Dari Neraka

Di malam-malamku yang kelam Sajak-sajak kuterbangkan melayang Kumohon kau menulis Sajak yang berbeda yang kuharap dari surga   “Aku tak pandai merangkai kata” ujarmu Aku membisu,beku,dan semu Apa sulitmu merangkai kata   Sedangkan aku yang di neraka bisa bersuka cita … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di PuisI | Meninggalkan komentar

Kwatrin Buat Aprilia

Kwatrin Buat Aprilia Kau lahir di 24 nama panggilmu Sama sepertiku yang merindumu Kau saat itu ketakutan Aku ingatkanmu akan Tuhan  

Dipublikasi di PuisI | Meninggalkan komentar

Puisiku Mati

Di mana langkah? ke mana pasrah? Aku dan puisiku telah mati tak lagi ditanya, “Apa itu puisi?”   Aku tenggelam, kala kelam Wakt bagi puisiku mati Waktu bagi keadilan mati Waktu bagi korupsi rimbun trembesi   Jikalau satu waktu bisa … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di PuisI | 2 Komentar